Sedikit Ulasan Ternyata Refleksi Diri
Pertanyaan konyol yang punya baaanyak sekali makna. Gimana nggak konyol, itu pertanyaan ditujukan untuk diri sendiri. Jawaban yang langsung mencuat juga sangat variatif.
“Aku baik-baik saja”
“Aku lagi sakit, terutama mental”.
“ Aku sedang mati-matian berjuang”.
Atau mungkin jawaban seperti ini “Kamu apa-apaan nanya kabar?” (Lho ko, malah tanya balik). Daan masih banyak lagi jawaban lain yang berkecamuk di otak.
Dari prolog tulisan kali ini sepertinya sudah bisa ditebak. Yang nulis sedang survive untuk hidup. Hampir ngos-ngosan bertahan untuk tetap bisa waras.
Salah satu upaya yang bisa dilakukannya adalah dengan memaksakan diri mengikuti challenge baca buku dari ODOP. Nah, itu juga sebetulnya salah satu bukti pertolongan yang diberikan Allah Swt. kepada hamba-Nya.
Dari challenge ini juga lah aku membuka kembali lembaran kosong di blog, sudah seperti sarang laba-laba yang horor. Bukan main, terakhir blog ini dibuka dan dicurat-coret sekitar Oktober 2025.
Setahun belakangan ini banyak sekali hal menakjubkan sekaligus menguji kekuatan. Ya kali, aku Power Rangers pink yang punya kekuatan. Buktinya aku kuat kok. Meskipun sebagian organ dan tulang belulangku sepertinya sudah copot dan menunggu keajaiban untuk bisa berfungsi normal lagi. Hati aku juga remuk, nafasku pun ikut lebam membiru.
Sudah, rasanya aku terlalu banyak membual. Tujuan utama aku memaksakan diri nulis di blog ini kan, untuk membuat ulasan.
Kita mulai ya, tapi tolong siapapun yang baca tulisan ini jangan sampai jijik atau membully. Yang harus banget dilakukan adalah mendoakan, agar orang yang nulis ini segera diberikan keajaiban hidayah dan Inayah Allah.
Oke, mengenai ulasan buku, terakhir kali di challenge ini aku baca buku tentang self-help atau motivasi berjudul Buku Anti Malas dan Suka Menunda karya Choi Myung Gi. Beuh judulnya aja udah kaya ngejelasin banget, ini yang baca kayanya ngalamin hal-hal yang nggak beres.
Kenapa memilih buku ini?
Karena pengen banget ngebenerin diri. Berbenah dan menata ulang alur yang berantakan. Harapan besarnya itu, dan aku juga sadar banget, selain dibaca isi yang ada di buku, harus juga aku amalkan.Kalau gak diamalkan, ya, sama aja kaya kita belajar teori wudhu tapi wudhu nya nggak. Mungkin gitu kali, ya.
Oh ya, aku baca buku ini udah dua kali tamat. Yups, yang pertama aku masih ngerasa nggak puas karena dirasa-rasa nggak terlalu ngefek di kehidupan aku. Apa karena aku bacanya kurang fokus atau bagaimana, entah.
Kali kedua tamat, tepatnya tadi sore, kayanya ini bakal cukup berkesan. Beberapa tips dan trik masih aku ingat-ingat jelas. Yang belum berhasil aku ingat secara jelas juga, sengaja aku tulis di notebook. Karena memang ternyata ketika dibacanya lebih fokus, buku ini tuh luar biasa ngaruh. Teori-teorinya masuk banget atau relate dengan kegelapan yang mengelabui hidup aku akhir-akhir ini.
Setiap akhir bab nya selalu diikuti dengan tips atau panduan cara mengatasi hal-hal yang bikin penyakit menyebalkan ini bersarang. Dengan bahasa yang cukup mudah dipahami dan dicerna, ini lumayan banget sih bisa membantu.
Penyampain teori juga sangat apik. Kayanya penulis niat banget dan paham bagaimana cara menyampaikan kepada orang yang menderita penyakit malas. Hhhaaa.
Oh ya, yang makin bikin berkesan dari buku ini adalah di bagian akhir ada part renungannya. Ini berasa banget kaya di elus dan dinasehati dengan lembut.
Itu aja mungkin ulasan yang bisa aku tulis.
Sebelum akhirnya benar-benar aku menutup tulisan, ternyata aku baru ingat ada satu tugas lagi untuk menjawab pertanyaan. Pertanyaan yang aku pilih adalah:
“Buku pertama apa yang membuatmu suka gendre ini? “
Aku jawab:”I can do it karya Paul Hanna”
Masih buku psikologi modern memang.
Oke, enough.
Alhamdulillah.
