Abah Asep, Desa Wisata dan Tanaman Lokal yang Mendunia

Bagi sebagian orang, hidup di kota lebih enak ketimbang di desa, mungkin karena akses untuk mendapatkan sesuatu yang lebih mudah ketimbang di desa. Apalagi jika desanya terpencil, susah ke mana-mana.
Bagi Asep Hidayat Mustofa atau biasa disebut Abah Asep, Desa adalah rumah yang istimewa. Menjadikannya menarik dan mudah untuk diakses adalah tantangan tersendiri yang kini akhirnya terealisasi.
Jika tulisannya tiba-tiba buram, silakan lanjutkan membaca dengan tautan teman.
Desa Wisata Hanjeli, Sukabumi, Jawa Barat. Adalah bukti bahwa Abah Asep berhasil membangkitkan keistimewaan desa melalui perjuangan yang luar biasa.
Dari perjuangan itu, Desa Hanjeli masuk jadi Juara 3 Desa Wisata Terbaik Rintisan Tingkat Nasional Kemenparekraf, Silver Medal Youth & SDG’s Program Markplus Tourism, Peraih KALPATARU tahun 2023 dari Pemerintah Indonesia, Gold Award dalam ajang Responsible Tourism Award (RTA), dan banyak lainnya.
Kami memberikan apresiasi karena dari 50 desa wisata ini ada salah satunya berbasis restorasi pangan ya Dari Hanjeli ini hampir punah tapi sekarang dikembangkan dengan penuh kearifan lokal, melibatkan masyarakat, menciptakan peluang usaha dan lapangan kerja. — Dr. H. Sandiaga Salahuddin Uno, B.B.A., M.B.A.
Kini, Desa Wisata Hanjeli yang Abah Asep garap, bisa memikat banyak wisatawan nasional maupun internasional untuk datang dan belajar di sana. Bukan hanya mengangkat nama desa, tapi juga nama Indonesia di mata dunia. Luar bisa sekali, bukan?
Gastronomi Hanjeli

Kita ulas satu persatu apa yang dikerjakan Abah Asep di desanya. Pertama adalah upaya untuk menanam kembali tanaman lokal yang hampir punah bernama hanjeli (coix lacryma-jobi).
Hanjeli adalah tanaman yang tumbuh subur di iklim tropis dan subtropis, kaya akan serat dan bisa dimanfaatkan untuk berbagai keperluan. Misalnya:
- Untuk membuat olahan makanan seperti: membuat sup, bubur, salad atau makanan penutup.
- Untuk membuat obat tradisional mengatasi sakit radang sendi, infeksi saluran kencing, dan gangguan pencernaan.
- Untuk membuat kerajinan tangan. Biji hanjeli yang keras dan mengkilap sering digunakan dalam pembuatan perhiasan dan kerajinan tangan. Mereka diuntai menjadi kalung, gelang, dan rosario.

Sebelum ditangan Abah Asep, Hanjeli adalah tanaman biasa saja, digunakan oleh masyarakat untuk sekadar mengganti beras, atau lebih parahnya lagi dibiarkan liar hidup di kebun.
Namun, Abah Asep tampaknya pandai melihat peluang dari tanaman tersebut. Maka, jadilah dari tanaman itu aneka olahan makanan, aneka obat dan pemanfaatan menjadi kerajinan tangan.
“Kami menanam kembali hanjeli, sebagai upaya pelestarian kekayaan pangan masyarakat dan diolah agar memiliki nilai tambah ekonomi bagi masyarakat” — Abah Asep
Lebih jauh lagi, Abah Asep berhasil mengenalkan hanjeli sebagai tanaman biasa yang mampu dilirik dunia. Lewat kerja kerasnya membangun desa wisata.
Desa Wisata Hanjeli
Jalan-jalan ke Desa Wisata Hanjeli, bukan soal mencicipi keindahan alam, lalu pulang membawa oleh-oleh gambar di memori digital. Bukan pula soal membawa oleh-oleh makanan yang bisa dibagikan ke teman-teman.
Tulisan ini bicara tentang bagaimana sebuah desa yang berhasil membuat orang-orang yang datang ke sana, membawa pengetahuan baru yang dari ilmunya itu, bisa menjadikan desa atau tempat pembawanya berubah juga menjadi desa wisata.
Bagaimana perjalanan Abah Asep dan desa biasa ini bisa menjadi desa wisata yang populer, bisa memberdayakan masyarakat sekitar, mengangkat wilayah Sukabumi, di kancah Nasional, dan mengangkat Indonesia di mata dunia?
Waluran, Kecamatan Jampang Kulon, Sukabumi. Adalah daerah yang memiliki kesulitan akses pada awalnya. Jalanan ke sana cukup jauh dan sulit untuk diakses, banyak orang kota yang berpikir dua kali jika harus berlibur ke sana.
Ada banyak sekali tempat wisata di Sukabumi, Jawa Barat. Pantai Pasir Putih, Air Terjun tinggi dan besar, sungai yang panjang, hutan hujan tropis, gunung, dan wisata lainnya. Namun, saat itu masih jarang yang menyentuh ranah desa wisata.
Rata-rata tempat wisata hanya dikunjungi karena tempat itu memiliki keindahan alam, bukan karena tempat tersebut berhasil membuat menjual karya yang bernilai.
Memang ada karya-karya lokal yang berhasil naik dan laku di pasar wisata, tapi lakunya bukan di tempat wisata Sukabumi. Kerajinan tangan seperti caping, bambu, dll. Banyak yang buatan Sukabumi tapi dikenal di tempat wisata lain sebagai oleh-oleh.
Alih-alih “Menjual” di tempat lain, Abah Asep dan tim yang ada saat itu ingin membawa wisatawan datang langsung ke desanya.
Upaya untuk memberdayakan tanaman lokal, masyarakat lokal dan keindahan wisata lokal mulai dirintis, lalu menggabungkan semuanya itu agar bisa menjual dan membuat wisatawan lain datang ke sana.
Abah mengajak elemen masyarakat sekitar untuk mulai berbenah. Membuat pelatihan, membersamai perjuangan, memberikan pelajaran dari pengalaman, dan tindakan lain yang akhirnya bisa membuat warga desa berdaya.
Tidak sedikit dari perempuan di sana, dulunya adalah pekerja wanita di luar negeri. Alih-alih bekerja di negeri orang, Abah Asep ingin menjadikan perempuan di sana hidup berdaya dengan memberdayakan desanya sendiri.
Warga desa akhirnya mengetahui keunggulan desanya sendiri. Dari pelatihan dan pelajaran yang diajarkan Abah Asep, mereka akhirnya siap melanjutkannya kepada wisatawan yang datang.
Selain tanaman hanjeli yang bisa diberdayakan sebagai alternatif pangan, obat dan kerajinan tangan, Abah Asep juga memberikan fasilitas rumah singgah, tempat belajar membuat kerajinan tangan, menanam, memasak, jalan-jalan ke air terjun besar di Waluran, sawah atau wisata alam lainnya.
Asep Hidayat Mustofa
Dari Abah Asep kita belajar bagaimana menyayangi dan merawat desa sendiri, menjadikan desa tempat kita tinggal menjadi desa yang dari tanahnya bisa menghidupi kita dan warga lainnya.

Desa yang dari tanaman, tempat wisata dan masyarakatnya bisa menjadi penopang ekononomi kita, bahkan bangsa. Kita jadi tidak harus mencari kerja di luar kota atau luar negeri.
Abah Asep membuat kita belajar bahwa rasa sayang dan cinta yang sungguh-sungguh, bisa membangun ekonomi yang tangguh.
Dari hasil kerja keras Abah Asep ini, maka lahirlah Desa Wisata Hanjeli dengan sederet prestasi.
- SATU Indonesia Award (SIA) 2021 (Tingkat Provinsi, Bidang Kewirausahaan). Ini adalah bukti kuat koneksi dengan Astra.
- Penghargaan Kalpataru 2023 dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) kategori Perintis Lingkungan.
- Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2022 dari Kemenparekraf.
- Svarna Bhumi Award 2025 (Pahlawan Pangan Nasional).
- Gold Award dalam ajang Responsible Tourism Award (RTA) (Asia Tenggara), menjadi finalis di tingkat dunia.
Deretan di atas belum selesai, masih ada prestasi lain yang sedang dan akan dicapai. Selain Desa Hanjeli, Abah Asep juga ikut berkontribusi di desa lain, membuat masyarakatnya berdaya dengan tanah dan hasil bumi dari desa.
#APA2025-ODOP
#SatukanGerakTerusBerdampak #KitaSATUIndonesia