Modul 4 Belajar Menulis Novel



Faiga Saelendra adalah pemuda dengan semangat usaha yang hampir tidak pernah menyerah, jiwa yang lembut dan ambisi yang tinggi. Sejak kecelakaan yang merenggut fungsi penuh pada kaki kirinya, bunyi tongkat yang secara konstan terdengar,  tuk.. tuk.. menghentak rasa percaya dirinya sampai terkikis dan menipis. Rasa tidak berharganya memuncak ketika ia jatuh cinta pada Kirana—gadis itu memiliki bentuk wajah oval dengan ranumnya bibir merah muda, kulit kuning langsat seakan memancarkan cahaya, jenjang tubuh selalu memberikan kesan indah bagi siapa saja melihatnya. Ditambah  keaktifan dia hampir dalam semua organisasi juga kegiatan selalu mendominasi, IPK yang  tak terkalahkan oleh rekan seangkatan menambah kesempurnaan. Selai itu, sikapnya yang ramah dan elegan membuat velue-nya pantas untuk ditinggikan, terlebih oleh pandangan Faiga.

“Pasti aku bisa buktikan suatu saat aku bisa mendapatkan cintanya Kirana”. Gumam Faiga menyakinkan dirinya sendiri. Ia menetapkan standar yang mustahil untuk dirinya sendiri. Ia belajar mati-matian siang dan malam untuk mengimbangi IPK Kirana, ia memaksa dirinya menghadiri acara sosial meski harus menahan sakit pada kakinya, dan ia bahkan berlatih berjalan tanpa tongkat di malam hari, berharap suatu saat ia bisa mendekatinya tanpa "beban" fisiknya. Usaha Faiga adalah sebuah siksaan, didorong oleh keyakinan bahwa cintanya adalah hadiah yang harus dibayar dengan kesempurnaan.

Puncak dari usaha Faiga terjadi saat kampus mengadakan Proyek Bakti Sosial besar-besaran di pelosok desa yang sulit dijangkau. Kirana adalah koordinator utama. Faiga bersikeras ikut, melihatnya sebagai kesempatan terakhir untuk membuktikan diri.

Tanah berdebu menempel di telapak tangan Faiga saat ia menolak uluran Kirana. “Aku bisa sendiri,” katanya, suara serak tertahan napas. Beban di punggungnya bergoyang, nyaris menjatuhkannya, tapi ia tetap melangkah, mendaki lereng berbatu dengan rahang mengatup rapat. Kirana mengikutinya dari belakang, matanya tak lepas dari langkah-langkah Faiga yang tertatih namun tak pernah berhenti.

Kirana menatap Faiga dari kejauhan, matanya berbinar setiap kali Faiga mengangkat batu besar atau menaklukkan tanjakan curam. Senyum kecil terselip di wajah Kirana, seolah menyimpan kekaguman yang tak perlu diucapkan.

Sementara itu, Faiga menunduk, menyeka peluh yang mengalir di pelipisnya. Di balik napas yang memburu dan tangan yang mulai gemetar, ia mencuri pandang ke arah Kirana. Bukan untuk memastikan kekaguman itu masih ada—melainkan untuk mencari sesuatu yang lebih lembut, lebih dalam. Mungkin, secercah iba. Mungkin, tanda bahwa dirinya tak harus selalu kuat.

Ia menggigit bibir, menahan nyeri di lutut yang mulai bengkak, tapi tetap melangkah. Kirana melihat keteguhan. Faiga berharap Kirana juga melihat luka yang ia sembunyikan.

Suatu sore, suara retakan kecil terdengar saat Faiga terpeleset. Ia jatuh, menggigit bibir menahan nyeri, tangan mencengkeram tanah. Kakinya tak bisa digerakkan. Kirana berlari, berlutut di sisinya, menyeka keringat di dahi Faiga dengan ujung kerudungnya. “Tenang, aku di sini,” bisiknya, jemarinya lembut memeriksa luka.

Melihat mata Kirana yang dipenuhi kekhawatiran, Faiga mengumpulkan keberanian. Ia mengakui perasaannya, menjelaskan bahwa semua usahanya adalah untuk menutupi kekurangannya dan mencapai standarnya yang tinggi.

Kirana mendengarkan dengan senyap. Reaksi yang Faiga tunggu-tunggu bukanlah pelukan, melainkan sebuah penolakan yang lembut namun tegas. "Aku tidak pernah melihat kekurangan di kakimu, Faiga. Tapi aku tidak bisa menerimamu."

Faiga hancur. Keyakinannya terbukti: kakinya, kekurangan fisiknya, adalah tembok penghalang yang tak bisa ia robohkan.

Faiga menjauh, tenggelam dalam keputusasaan dan rasa pahit. Ia yakin Kirana hanya mencintai kesempurnaan, dan ia tidak memilikinya.

Yang Faiga temukan bukanlah alasan tentang kakinya, melainkan kenyataan yang menghancurkan ilusi kesempurnaan Kirana:

Kirana Menderita Rasa Takut yang Sama: Kirana menderita gangguan kecemasan sosial (Social Anxiety Disorder) yang parah. Segala kesempurnaan, keaktifan, dan keeleganan yang Faiga lihat adalah perisai yang ia bangun. Ia selalu menjadi yang terbaik di segala hal agar tidak ada yang fokus pada dirinya atau menanyakan keadaannya. Ia takut berkomitmen karena ia takut sisi rapuhnya yang sebenarnya akan terbongkar.

Kirana menolak Faiga bukan karena ia tidak menyukai Faiga, melainkan karena ia tidak mampu menerima cinta yang tulus dan jujur. Usaha Faiga yang mati-matian untuk menjadi 'sempurna' justru membuatnya tertekan, karena Kirana merasa itu adalah tekanan untuk mempertahankan kebohongan yang ia jalani.


Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url